Pages

Blog Archive

Are you here because google didn't show you the right list from your keyword?

Showing posts with label cerpen"kuwh. Show all posts
Showing posts with label cerpen"kuwh. Show all posts

Wednesday, June 23, 2010

I Promise I Will

hi guys! =)
back again here :)

dan lagi-lagi di pagi buta. hihihi... tampaknya predikat bat woman ini susah sekali hilang ya :P
well, laporan singkat hidupku beberapa hari ini, skripsiku sudah selesai, aku sudah melewati waktu-gila-sensitif-unpredictable itu dengan cukup baik, Bandung mulai panas (hey, i think it's already summer, right? i need beach here! lol), kebiasaan burukku kembali lagi setelah sekian lama hilang, and the bad news is... my hair is still falling! and it's getting worst.

ah, yeah, i know, I'm pull round yet.

lately, aku jadi sering dengerin lagunya Yui yang Goodbye Days. meskipun aku nggak yakin itu bahasa jepang atau filipina (hahaha!), tapi yang penting tau artinya kan? hehehe... ya! i like it, sejak pertama mendengar versi akustiknya. so deep and easy listening.

ngomong-ngomong soal lagu, ada satu lagu yang jadi sering ada di list tiap kali aku mengerjakan tugas atau sekedar online lewat laptop. I Promise by Stacie Orrico. dilihat dari lagu memang easy listening, juga berbahasa inggris, punya arti yang bagus, sederhana, dan jadul. tapi ada satu cerita di balik lagu itu.

well, di Bandung, di daerah seputaran Gazibu, ada sebuah cafe bernama Green Cafe. kalau lihat konsepnya, 11-13 lah sama Kunang-Kunang di Surabaya. memang dekorasinya lebih bagus Kunang-Kunang karena ada kolam ikan di bawah kita waktu di jalan masuk sedangkan di Green cafe hanya tanaman-tanaman dan sedikit aliran air-tanpa ikan. di Green cafe sebagian besar kursi untuk kostumer berupa sofa.

diantara keduanya, Green cafe memang lebih menyenangkan buatku (harganya pun lebih bersahabat. hihihi! maklum, kalau di Bandung naluri anak kos-nya muncul, beda kalau di Surabaya... hehee). dulu, aku dan Mega sering kesana. selain tempatnya tidak begitu jauh dengan kampusku, dan tempatnya cozy, alasan lainnya adalah, aku sangat suka dessert buatan mereka! hihihi! nggak heran banyak orang kesana untuk mencoba dessertnya. yang lucu, waktu aku disana, ada tante setengah baya yang datang kesana hanya untuk makan strawberry cheescake. awalnya itu membuatku ketawa, hingga akhirnya aku menjadi ketagihan untuk kembali.

disana, mereka selalu memutar lagu-lagu yang enak didengat telingaku. ya, sesuai seleraku. nah, waktu jaman SMP, I Promisenya Stacie Orrico nggak booming disekolahku, tapi tiap hari aku denger lagunya dari komputer. eh, waktu nongkrong disana, lagu ini diputer lagi. wahh, kembali lah kenangan masa lalu itu. dulu, aku sering telepon cinta monyetku (yang sampai sekarang nggak kesampaian untuk jadian) sambil mendengarkan lagu ini. hihihi...

you know, it's silly. awalnya, aku selalu melihatnya bersepeda ketika berangkat sekolah, kami selalu bertemu tapi dia tidak pernah tahu aku. lalu, itu berkembang karena aku mencoba memberanikan diri. aku setahun meneleponnya hampir setiap hari selama setahun setiap pulang sekolah. bercanda dan berbagi tentang banyak hal. menatapnya dari jauh ketika dia bermain basket. bahkan aku pernah pulang larut hanya untuk menontonnya mengikuti pertandingan basket, aku pulang sambil sesekali menjerit karena anak-anak tim basket menjahiliku dengan mencoba memberikan anak kucing kepadaku.

saat itu aku hanyalah anak SMP biasa. anak yang setiap pulang sekolah langsung pulang ke rumah di antar pak wito, supir anat jemput aku dan empat teman dekatku. kalau pun tidak pulang kerumah, paling aku ke tempat les. anak yang membunuh waktunya dengan komputer jadul dan kertas kosong. anak yang lebih memilih bermain sendiri di halaman belakang daripada berkumpul dengan anak-anak kampung rumahku. anak yang selalu mengikuti olimpiade palajar meskipun sejujurnya aku bukanlah anak yang pandai. aku masih pakai mini-set. aku tidak tahu cara berdandan. aku masih menuliskan "i love you" di belakang bukuku. aku yang bodoh akan woman rules. aku suka berantem dengan teman laki-lakiku. aku kasar dan tidak takut untuk melukai siapa saja yang menggangguku.

sedangkan dia, dia adalah anak laki-laki berwajah judes dan susah bersikap ramah pada para gadis. dia pernah memacari kakak kelas kami yang paling cantik disekolah. dia bahkan meminum L-Men agar tubuhnya terlihat macho. dia sangat usil, dia senang sekali menakutiku dengan kucing padahal dia tahu aku benci kucing. dia punya seekor kucing anggora berwarna coklat muda. dia anak band. saat itu, dia sangat menyukai lagu Linkin Park. dia salah satu dari anak KRAT'S, geng yang terkenal disekolah kami. dia golongan anak-anak keren. meskipun terlihat kasar dan tidak begitu pandai, tapi dia sungguh baik padaku. dia bercerita banyak padaku, aku bahkan berbagi rahasia dengannya. dia juga tahu aku suka menulis.

suatu hari, dia memintaku menuliskan sebuah cerpen untuknya. hari berikutnya aku memberikan cerpen itu didalam sebuah amplop dan aku titipkan pada teman sekelasnya. sepulang sekolah, saat bicara ditelepon, dia bilang dia menyukainya. dia bahkan menyuruhku membuat cerpen berseri untuknya! hari berikutnya, aku menuliskan cerpen berseri itu lagi dan lagi.

selang berapa lama, ada sedikit kekhawatiran dihatiku bahwa dia tidak akan menyukainya, jadi aku berhenti menulis. you know what he said to me? dia bilang "tulisanmu bagus, kok! aku suka... tulis lagi ya... nanti aku tempel cerpen-cerpenmu ditembok kamarku..."
"kalau nanti teman-teman yang lain tahu, terus tanya ini tulisan siapa, kamu jawab apa?"
"aku jawab, ini buatan dida..."
aku bahkan masih ingat dia mengatakan hal itu, mengatakan bahwa tembok biru-nya akan penuh dengan tulisanku. saat itu aku masih 13 tahun. saat itu aku sering berbuat bodoh dan memalukan. tapi aku sungguh menyukainya.

sejak saat itu, aku rajin menulis. aku terus menulis meski bukan menulis untuknya lagi. dia adalah orang pertama yang menyukai tulisanku. semangatku tidak boleh mati meski dia tidak lagi mambaca untuk membuatku senang. aku harus terus menulis, because it will always make me feel alive...



Will I take tender care of you?
Take your darkest night and make it bright for you
Will I be there to make you strong and to lean on?
When this world has turned so cold
Will I be the one that's there to hold?
Will I be there when you call me in the middle of the night?
Will I keep the rain from falling down into your life?
I promise, I promise
I promise I will

Saturday, June 5, 2010

Jaring Ikan Bu Nunik

matahari bersinar cerah. angin berhembus memasuki tiap-tiap lubang jendela, memberikan aroma pantai yang khas. sudah hampir seminggu Bu Nunik tidak menyusuri pantai untuk mencari ikan kecil dan kepiting. penyakit tuanya memaksa untuk beristirahat dirumah. berbekal keterpaksaan, Bu Nunik hanya mengandalkan dua kilogram beras dan uang sepuluh ribu untuk biaya makan ia dan Rana selama seminggu.

selama sakit, ia menjadi sering memperhatikan Rana, anak gadisnya. anak ini, tak pernah punya teman bermain dan bercakap-cakap. tidak juga Rana bercakap pada ibunya. setiap hari ia hanya duduk di atas potongan kayu pohon yang diletakkan melintang didepa rumahnya, diatas pasir putih. setiap hari ia hanya mendengar deru ombak, kicau burung, dan derit kayu-kayu tua yang menjadi tembok rumahnya. setiap hari, ia akan memejamkan mata ketika angin menerpa wajahnya dan melambai-lambaikan rambutnya. setiap hari ia hanya melihat garis laut dan burung camar. sesekali ia mengikuti ibunya hanya untuk melihat ikan-ikan kecil berenang dan melihat rumput laut yang banyak terpapar dipasir seperti jejak Rana yang menyusuri pantai.

dua puluh tahun sudah, namun ia tidak pernah mengucap kata sesal telah melahirkan Rana. Ia akan membayar dengan apapun demi kehidupan Rana. baginya, Rana, sama seperti anak lainnya. Rana juga permata.

bagi Bu Nunik, kehidupan Rana hanya ada dua, senang dan sedih. anaknya tidak tahu bagaimana mengekspresikan emosi. ia akan menjerit-jerit ketika sedih dan berlari-lari ketika senang. Rana tidak pernah memikirkan uang atau bagaimana ia mendapatkan makanan. anaknya istimewa, tidak seperti kebanyakan anak pada umumnya, namun Bu Nunik menerimanya dengan tabah hati.

siang ini, hari ke lima Bu Nunik tidak bekerja. seharian ia duduk di potongan kayu pohon. Rana menghilang sejak pagi hari. tubuh Bu Nunik yang tua dan sedang tidak sehat membuatnya harus puas menunggu Rana didepan rumah tanpa mencarinya. dilihatnya matahari mulai terbenam dengan indah. setiap hari selalu indah, pikirnya.

lama menunggu Rana, Bu Nunik memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. angin malam tidak baik untuknya. lagi pula, ia belum membuat bubur untuk makan malam. Bu Nunik segera menyibukkan diri di dapur.

tak lama berselang. Rana berjalan riang, sesekali jinjit kakinya meninggalkan suara di lantai kayu. sekali. dua kali. derit-derit lantai kayu membentuk irama mengikuti langkah kaki Rana. Ibu Nunik yang sudah tua itu tahu bahwa anak semata wayangnya baru saja datang dan ia sedang bergembira.

"Ibuuuu..." panggil Rana pada ibunya. sekali lagi ibunya dibuat yakin bahwa Rana sedang bergembira. tak biasanya Rana memanggil ibunya dengan panggilan yang panjang dan nyaring. ia terbiasa mendengar suara tangis anak gadisnya.

"Ibuuuu..." panggil Rana sekali lagi. kali ini Bu Nunik keluar dari dapur setelah selesai membuat bubur. "apa Nduk?" tanyanya. suaranya tidak pernah menggambarkan emosi kemarahaan atau kesedihan. Bu Nunik selalu terdengar tegar dan sabar pada Rana.

betapa terkejutnya Bu Nunik melihat tangan dan kaki Rana penuh luka. kecil-kecil namun mengeluarkan darah. beberapa bagian dari daster berwarna krem dengan gambar bunga tulip berwarna-warni itu juga sobek di beberapa bagian ujungnya. sekujur tubuhnya pun basah kuyup.

"Ibuuuu..." panggil Rana sekali lagi sambil memberikan senyum pada ibunya.
"ya Tuhan! Nduk... badanmu kok jadi lecet-lecet begini..." kata Bu Nunik yang tak mampu membendung kesedihannya. dipegangi bagian-bagian tubuh anaknya, diperhatikannya luka-luka itu dari dekat. dibaui tubuh Rana, bau air laut. dielusnya perlahan rambut Rana yang basah, pasir putih banyak menempel disana. Rana masih juga mempertahankan senyum pada ibunya.

"ada apa Nduk?" tanya Bu Nunik yang menatap mata anaknya sangat dekat dan lekat. Rana masih juga memperlihatkan senyumannya. ternyata anak ini bisa tersenyum, pikir ibunya.

Rana berbalik menuju pintu utama rumahnya. ia berlari kembali sebelum ibunya sadar akan meneriakinya untuk kembali. dibawanya sebuah jaring kecil penuh dengan ikan dan kepiting. jaring yang biasa Bu Nunik gunakan untuk menyimpan ikan dan kepiting tangkapannya. "Ibuuuu..." kata Rana sambil menunjukkan jaringnya. ia berjalan mendekati ibunya.

Bu Nunik tak mampu membendung tangis. dipeluknya Rana yang masih memegang jaring ikan. "oalah Nduk... Kamu ini..." Bu Nunik tak bisa meneruskan kata-katanya. ia hanya menangis memeluk Rana. isak tangisnya tenggelam oleh suara deburan ombak. "oalah Nduk... ibu nggak tahu kalau Kamu ngerti..."

"ibu nggak tahu kalau Kamu belajar untuk ngerti..." kata Bu Nunik yang memeluk Rana erat.

Tuesday, March 23, 2010

Sebuah Doa yang Jahat

menyakitkan ketika kamu keluar dari pintu itu dan meninggalkan aku begitu saja seperti seorang pelacur. aku bukan pelacur, ketahuilah itu dari usapan tanganku dipipimu. ketahuilah itu dari genggamanku ditanganmu. dan ketahuilah itu dari mataku yang tak mau menatapmu pergi. seorang pelacur hanya memperlakukanmu dengan baik karena uang yang kamu bawa. dan aku memang bukan pelacur.

lalu aku duduk menghadap pintu yang baru saja kamu tutup. aku menatapnya dengan rasa yang berkecamuk. aku marah. aku sedih. aku seperti ditampar. tiba-tiba airmata itu menetes. aku mendekap kedua lututku. berharap ini adalah sebuah kesalahan yang dapat diperbaiki. namun ternyata kamu memang benar-benar pergi. kamu tidak mengetuk pintuku lagi atau mengirimiku ucapan maaf.

aku telah meninggalkan dunia yang penuh gemerlap itu. namun puing-puing sampah dari dunia itu masih terus berjatuhan menghujani aku. kamu adalah sampah. dan aku adalah manusianya. mungkin aku berbeda dari yang lain. aku yang menganggap sebuah sampah bisa menjadi berharga. aku menyambutmu karena aku tahu kamu bisa menjadi berharga.

kenyataannya, sampah adalah sampah. ia adalah benda yang semestinya dibuang dan dibiarkan hancur bersama tanah. sudah nasibnya menjadi terinjak. salahku mengharapkan kamu bisa lebih baik dari seonggok sampah terinjak.
pikiranku selalu salah tentang kamu. entah ada apa. ketika dalam dekapanmu, aku merasa aman sekaligus takut. aku tahu kamu tidak akan biarkan mereka melukaiku. dari semua ini, satu-satunya orang yang melukaiku adalah kamu.

waktu yang singkat. beruntunglah pada waktu yang mengujiku. hanya waktu yang singkat yang memang aku butuhkan. tertawalah karena aku membantumu. ceritakan pada dunia jika kamu ingin. pulanglah dan berdirilah didepan kaca. kamu menyedihkan. kamu sangat menyedihkan. bersikap begitu karena kepedihan. aku manusia yang tidak diciptakan untuk selalu mengerti kemauanmu. aku tidak diciptakan untuk selalu membantumu.

dalam gelapnya kamar berhias cahaya-cahaya kecil berwarna biru. semoga kau selalu bersedih hati sebelum menuangkan kata maaf padaku. amin.

Friday, November 6, 2009

Hates

i hate the way you messing up my days
and everytime you doing in my ways
i hate your lips when it says sucks
and when you do like i want your bucks
i hate you when you drunk up your beer
and when i see you are not around here
i hate you when i kept you waiting
and you always do the same things
i hate the moments you saw i cry
because you saved breath and didn't try
i hate when you ran low knock my door
whereas just you! there is nothing i want more
i hate feeling sick at this time
it's good when sounds like rhyme
Hahaha !
now, i do hate to say that i'm love
bcause you just pissed me off

*iseng*

Wednesday, November 21, 2007

cerpen tentang cerpen

Aku telah memutuskan untuk menulis. Meskipun papa sempat mendiamkan aku seminggu ini. Aku lebih nyaman menulis seharian didepan laptop ketimbang harus duduk didepan soal-soal kimia selama dua jam. Dua jam sudah cukup untuk membuat sebuah cerpen baru. Pagi ini papa masih mendiamkan aku. Aku tahu, dia ingin menjadikan aku penerusnya, orang yang memiliki rasa seni tinggi pada benda-benda berbau arsitektur indah. Aku suka dengan seni. Sangat suka. Namun apa harus pada benda-benda tinggi menjulang?? Apa harus bentuk-bentuk besar itu?? Kenapa bukan secarik kertas dan pensil??
Ini adalah cerpen yang belum setengah aku kerjakan. Aku diam termangu memandang huruf-huruf pada keyboard yang tulisannya mulai hilang karena sentuhan jari-jariku. Kali ini pikiranku buntu. Aku lupa jalan ceritanya. Ah,, ini karena papa. Aku jadi susah konsentrasi. Aku ke dapur membuat the hangat. Pagi ini dingin sekali karena semalam hujan lebat. Aku sempat basah kuyup karena baru pulang les.
Rumah ini terasa lenggang. Papa dan mama sudah berangkat. Pagi ini orang tuaku sibuk sekali, kulihat ruang makan bersih. Tampaknya mereka tak sempat makan pagi. Bicara tentang makan, sudah setahun ini aku jarang berkumpul dengan orang tua dan kedua adikku untuk makan bersama. Biasanya, aku dan keluargaku makan malam di café om Hanung di hari-hari istimewa seperti hari ulangtahun salah satu dari kami. Awalnya, kami hanya senang makan di cafe om Hanung, karena sering, akhirnya kenal juga dengan pemiliknya. Om Hanung memiliki pribadi yang menyenangkan. Dia menghadapi hidup bagai air mengalir. Beda dengan orang tuaku yang menginginkan segalanya sempurna. Seperti nilai ujianku yang harus sepuluh. Ah,, munafik. Tak pernah ada yang sempurna didunia ini... .
Ini sudah tiga gelas teh hangat dan semangkuk cornflakes yang masuk perutku. Pikiranku masih buntu. Apa yang ingin aku lanjutkan dari cerita ini?? Sebenarnya, akhir-akhir ini aku banyak sekali masalah. Bukan hanya masalah papa. Tetapi juga nilai-nilai ujianku, perilakuku disekolah, dan mas Thomas. Mas Thomas sudah memarahiku dua kali dalam minggu ini. Dia kecewa dengan hasil kerjaku. Dia bilang, aku mulai nggak kreatif, aku mulai kehabisan ide cerita. Aku hanya diam menunduk sambil mendengarkan amarahnya yang makin keras saja ditelingaku. Bahkan, aku masih ingat percakapanku dengannya saat itu.
“Goblok!! Goooooobllooooooooooooooooookk!! Kalau kamu nggak niat, nggak usah kerja!! Tahu kamu,, diiiiii luuaaaarrr sanaaaaaa!!! Masih banyak penulis muda yang lebih kreatif dan berebut untuk aku rekrut!! Mereka bisa nulis lebih baik dari tulisan ecek-ecek ini!!!!!!!” bentak mas Thomas padaku sambil melempar hasil tulisanku. Kertas-kertas itu berserakan dilantai.
“kenapa diem aja?!?!?! Sadar ya kalau nggak bisa kasih tulisan kreatif lagi?!?! Kenapa sekarang masih duduk disini?!?! Kenapa nggak duduk didepan sambil belajar bikin surat pengunduran diri?!?!” bentaknya kasar.
“guru-guruku mulai protes, mas...” kataku pelan.
“terus??” tanyanya sambil memandang tajam. Mas Thomas membetulkan letak duduknya.
“nilai-nilai ujianku pada turun. Ya mau nggak mau mas... aku harus bisa buat prioritas. Aku pilih sekolah. Bukannya aku diterima kerja disini karena nilai-nilaiku baik?? Dan aku mau pertahankan itu. Aku nggak bisa mas, aku nggak mau kalah gara-gara aku harus milih antara nulis dan sekolah. Aku yakin aku bisa lakukan dua-duanya...” jawabku sambil memunguti kertas-kertas yang berserakan itu. Mas Thomas diam sebentar.
“well, kamu sudah dua minggu ini lho, Ta...” katanya sambil memandangku. “hhh... aku nggak ngerti, Ta... sumpah!! Kamu dulu punya fans banyak... orang-orang itu beli majalah XD karena tulisan kamu yang bagus... kenapa sekarang gini?? Nilaimu turun... tulisanmu acak-acakan... kalau ini gara-gara papamu, udahlah... nanti dia juga akan ngerti... Ta, aku nih pusing banget ditagih terus-terusan sama atasanku... kayaknya kamu break aja dulu dua atau tiga minggu,, sementara biar mbak Novi aja yang gantiin kamu ini...”
Tak ada tawar menawar dengan mas Thomas. Aku diam lama. Aku berhenti nulis?? Mana mungkin?? Aku pengen banget buat prioritas dan nulis yang pertama. Berkali-kali mas Thomas memaksaku. Akhirnya aku luluh juga. Aku diberi waktu dua minggu, setelah lewat dan hasilku jelek,, artinya aku harus istirahat sampai kenaikan kelas untuk mengembalikan nilai-nilaiku. Aku pulang dan kesal sekali. Apalagi ketika papa sudah mendudukkan aku di ruang keluarga. Bencana. Papa marah besar dan menyuruhku dengan paksa untuk berhenti menulis agar aku sukses mendapatkan nilai bagus dan masuk sekolah yang lebih tinggi yang sudah ia rencanakan untuk aku.
Lamunanku buyar karena semilir angin yang menggoyangkan rambutku. Aku masih duduk didepan laptop di beranda atas. Aku harus bisa buat cerita ini. Aku yakin bisa!! Aku nggak butuh diam dan mengulangi semua ini karena aku percaya aku mampu melakukannya tanpa gagal. Tiba-tiba semangat menulisku muncul lagi, rasanya sama saat mas Thomas memberiku bonus karena hasil polling majalah XD, karya-karyaku menjadi favorit hampir semua pembaca dan malamnya aku langsung membuat empat cerita baru.
Akupun mulai mengetikkan huruf per huruf, kata demi kata, paragraf berantai. Dan,, whalaaaa!! Sebuah cerpen jadi dalam sekejap. Seperti acara sulap di TV... . aku mulai menulis lagi. Tiga jam kemudian, dua cerpen baru telah lahir.
Aku buru-buru beranjak dari dudukku lalu menyambar handuk dan bergegas mandi. Aku tahu mas Thomas pasti menerima karya-karyaku. Aku mengambil ransel butut dan memasukkan tiga cerpen baru kedalamnya. Kusetir sepeda motor berwarna pink menuju kantor redaksi majalah XD. Aku berlari ke ruang mas Thomas. Sambil terengah-engah, aku menyerahkan cerpen dari dalam ransel pada mas Thomas yang tak berkedip memandang aku dengan sejuta heran.
Selama ini, seumur hidupku ini, aku tak pernah gagal melakukan sesuatu. Aku selalu berhasil. Aku selalu berusaha keras untuk dapatkan apa yang aku mau. Meski disekitarku hilang semangat, aku selalu berusaha tumbuhkan semangat baru dalam diriku meskipun sulit. Aku selalu dapat buktikan pada orangtuaku kalau aku adalah Nita yang kuat. Dan aku tak pernah gagal!!
Mas Thomas membaca halaman terakhir ceritaku. Lalu dia meletakkan kacamata minusnya diikuti hembusan nafas panjang. Dia memajukan wajahnya sambil memandang wajahku yang berkeringat dan sedang menanti tanggapannya. Mas Thomas tersenyum puas. Puas dengan karyaku.
“aku tahu kamu bisa, Ta...” kata mas Thomas.

Friday, November 16, 2007

Aku si Cupu

Aku nggak pernah ngebayangin gimana aku bisa ada disni. Empat bulan lagi aku akan menghadapi ujian akhir, wisuda-an ala anak SMA. Perpisahan dipantai sambil liat sunset yang bikin mata berbinar, terus ditutup dengan tangisan yang nyadarin kalau semua itu nggak akan terulang lagi. Kenangan kami. Kenanganku.
Orang bilang, masa SMA itu masa yang paling indah,,, masa dimana kita ngerasain banyak hal,,, banyak cerita,,, banyak pengalaman,,, dan masa inilah yang sedang aku alami…
By the way… itu masih empat bulan lagi,,, enam belas minggu lagi,,, dan semuanya akan aku lewati. Semua pasti berjalan menyenangkan. Semua pasti menjadi istimewa dalam kenanganku. Aku sedang duduk dibangku paling depan. Dari tempat dudukku, aku dapat lihat lalu-lalang anak-anak berseragam sama.
Ini hari yang aneh. Tak ada buku tugas dari teman yang memaksa aku untuk mengerjakannya. Tak ada buku bacaan dari perpustakaan. Bajuku juga bukan baju kedodoran yang biasa aku pakai kesekolah. Rokku bukan rok besar yang dulu dibilang anak kelas sebelah “rok jaring ikan”,, yah… karena ukurannya. Mama mana mau menjahitkan baju yang keren untukku. Tapi sekarang beda. Tasku juga kecil, bukan ransel penuh buku lagi.
Tiba-tiba Vina datang, lalu duduk disebelahku. Haa?? Cewek yang populer seantero sekolah karena kecantikan dan ke-bego-annya itu duduk disebelahku, mengajakku mengobrol seperti layaknya sahabat karib. Wow... aku sempat gagap menjawab beberapa pertanyaan ringan yang diucapkannya.
Lalu Raya datang, raya yang aku tahu sahabat kental Vina itu ikut mengajakku ngobrol juga. Aku merasa jadi bagian dari mereka. Bukan bagian yang kebetulan... tapi memang benar-benar bagian cewek-cewek terkenal satu sekolah. Sukur-sukur bisa kayak Vina yang sampai dikenal sekolah daerah timur. Wahaaaaaa... sekarang,, jangan lagi panggil aku dengan sebutan “Ire Cupu” lagi... panggil aku “Ire” karena aku, bukan cewek cupu!!!!
Kalau aku jalan ke kantin, Vina dan Raya ngikut dibelakang. Huah.. lagaknya udah kayak bos dikawal dua cewek cantik!! Semua cowok pada ngeliatin dengan pandangan yang takjub. Aku melangkah dengan pede, sampai akhirnya aku gagap lagi karena bertemu dengan Saputra. Cowok ini bener-bener perfect!! Waktu aku masih cupu, dia mau nyapa aku. Sekarang aku jadi beken, dia masih mau nyapa aku!! Padahal,, nggak sedikit cewek yang berharap jadi pacarnya, Saputra... sapa sih yang nggak mau ama cowok yang satu ini?? Gila ajah,, uda keren, pinter, juara segalanya, jago olahraga, anti hal-hal buruk, cakep, ramah, murah senyum, kaya, and yang bikin para cewek jadi leleh kayak coklat dijemur,, Saputra tuh baiiiiiiiiikkk banget ama cewek... kayaknya buat dia cewek tuh anugerah terindah dari Tuhan.
Saputra menggandeng tanganku. Dia mengajakku kekantin bersama. Aku mengiyakannya. Kami berjalan berdua. Lalu menikmati soto ayam buatan bu Ani. Semua terasa benar-benar nikmat.
Tiba-tiba terasa semua bergoyang. Mangkuk soto pun turut menumpahkan isinya. Aku panik. Sangat panik. Tapi Saputra melindungiku. Dan aku diam kembali. Aku percaya dia bisa melindungiku. Lalu...
“Ire?? Udah sadar yah??” tanya seseorang.
“kamu siapa??” tanyaku.
“lho??” balas orang itu.
“kok gelap sih?? Memang mati lampu yah?? Aku dimana??” tanyaku lagi.
“ini Saputra. Kita ada dikamar kamu dan sekarang lagi terang banget...” jawab dia.
“nggak,, nggak mungkin!! Aku nggak bisa lihat kamu!!” teriakku mulai panik.
“apa mungkin??” katanya pelan.
“mungkin apa?!?!” bentakku tak tahu arah.
“kamu tadi bertengkar sama Vina dan Raya. Vina ngedorong kamu. Kamu jatuh, aku nggak tahu persisnya kayak gimana, setelah jatuh yang jelas kamu nggak sadarkan diri. Dan kita disini...” terang Saputra.
“si cupu udah sadar yah??” tanya seorang cewek.
“kamu siapa?” tanyaku.
“buta yah lo!! Yah gue lah,, Raya...” jawabnya kasar.
“a.. aku... aku... aku nggak bisa lihat...” kata-kataku terasa bergetar dan selanjutnya aku menangis. Terus.
“aku nggak bisa lihat!!” teriakku sambil memukuli wajahku berkali-kali. “Hwaaaa!!!!!!!!!” jeritku.
Keadaan sunyi. Dan aku ingat. Ini bukan mimpi. Aku sadar betul. Aku masih Ire si cupu. Aku masih merasakan seragam kedodoranku. Aku masih dibenci Vina dan Raya. Aku ingat Vina membentakku sambil melemparkan buku tugasnya yang tak kukerjakan tadi malam lalu dia mulai membentakku dengan makian-makian kasar. Raya turut ambil bagian. Isi tasku dibuatnya berserakan dilantai. Seragamku pun ditariknya, kancing bajuku tercabut dua biji. Dan Vina emosi. Mulai menjambak rambut ekor kuda-ku. Lalu ia mendorongku. Aku ingat betul. Aku jatuh begitu saja. Sakit. Gelap. Lalu aku disini.
“puas kalian lihat aku buta?!?!” jeritku tak tahu pada siapa diruangan ini.
Aku masih terisak. Tak ada yang menjawabku. Tampaknya mereka benar-benar puas. Aku buta. Aku tak bisa lagi melihat matahari yang indah. Aku tak dapat lagi bertemu dengan dongeng lucu itu. Aku tak akan bisa membantu kek Dayat berjualan bunga segar yang indah. Aku tak bisa ke toko buku, tempat favoritku sepanjang masa.
Aku masih Ire si cupu. Ini bukan mimpi. Vina masih membenciku. Raya masih emosi padaku. Tak ada yang tahu apa mauku. Aku masih berteman baik dengan buku. Tapi ada satu cerita di SMA yang tak pernah berubah... Saputra masih disini... menemani aku si buta Ire yang cupu...

Thursday, November 15, 2007

Detik Untuk Mo...

Mo lagi-lagi telat masuk kelas. Padahal, ini waktunya matematika. Wajahnya seperti biasa, mirip orang bangun tidur. Sebenarnya sih, memang perawakan Mo seperti itu. Pak Joule, yang bernama besaran fisika itu, masih sibuk menjejalkan materi-materi macam eksponen dan teman-temannya. Rambut pak Joule sedikit botak, mungkin karena botak diusia tua. Wajahnya lucu. Pak Joule menghentikan kata-katanya beberapa detik untuk mempersilahkan Mo masuk kelas.
Aku hanya memandang dari kursiku. Dimataku Mo itu asyik, rapi, sulit menggambarkannya. Dia seperti banyak buku di Gramedia. Tertata rapi. Dia pasti punya seseorang yang juga memiliki ‘sesuatu’ yang tertata rapi. Beda denganku. Pastinya.
Banyak gambar-gambar Mo yang kusimpan dalam sebuah memori kecil. Ekspresinya saat masuk kelas, bengong, senyum, tertawa, mengerti akan suatu hal, atau hanya sosoknya dari belakang. Hanya itu. Kadang dibumbui sedikit obrolan dan canda. Mo baik. Setidaknya dia menghargai aku yang jelas dia tahu aku memiliki rasa suka padanya dari seseorang. Seseorang yang amaaaaaaaaaaaat baik pada Mo dan memberitahu rahasia ini. Tapi Mo tak pernah marah padaku.
Mo salah. Aku tahu dia ada niat untuk memperjelas suasana, maksudku, dia tak suka aku. Dan dia tak pernah mengatakannya. Karena memang seharusnya begitu. Dia tak perlu mengatakannya. Aku sadar aku tak mungkin bersamanya. Aku membuat rasa ini menjadi sebatas rasa kagum. Mungkin. Sifat Mo membuatku berubah. Aku tak suka dia tahu apa yang ada dalam hatiku. Mo terlalu manis untuk aku lupakan…
Kemarin aku melakukan kesalahan. Aku sadar, Mo dan aku akan segera berpisah. Namun yang aku lakukan selalu membuat kami makin jauh. Aku merasa malas sekali melihat Mo. Padahal, sebenarnya aku hanya tak mau menerima keadaan yang membuat aku tak bisa melihatnya lagi.
Ini hari terakhir sebelum aku berpisah dengan Mo dan teman-temanku yang lain. Apa yang aku mau mungkin hanya akan jadi keinginan selamanya. Mo pasti sadar tentang ini. Jika dia memang mengerti. Atau mungkin aku salah menganggap dia bukan orang yang cuek. Hhh… tenyata Mo benar-benar cuek!!
Aku ingin menghentikan ini, detik-detik saat aku bersamanya dalam satu ruang. Aku masih ingin tetap bingung tentangnya. Aku masih ingin tahu banyak tentangnya. Aku masih ingin tahu kesempatanku untuk meraih hatinya. Meskipun ini akan jadi akhir yang menyakitkan. Sesempurnanya Mo, dia hanyalah manusia biasa yang memiliki sikap dan perilaku normal. Ah,, aku berharap dia tak normal sehingga mau memilihku. Kenyataannya, Mo selalu mencari yang lebih baik dari waktu ke waktu. Mungkin waktu baikku dimatanya telah terlewat. Entahlah, meski aku –mungkin- lebih baik dimata Mo, toh suatu saat dia akan tetap meninggalkan aku dan mencari yang lebih baik.
Mo dan aku tertawa, bercanda, foto, saling pandang-aku yang lakukan itu-, akupun sempat mengerjainya… aku senang melakukannya. Sangat senang. Hingga waktuku berjalan keluar.
Aku melihat Mo yang sedang duduk diatas sepeda motornya. Mo sedang bersiap untuk pulang. Aku sempat menghembuskan nafas panjang, aku tak ingin terjadi. Terngiang bacaan puisi seorang teman, “bagaimana caramu mengucapkan selamat tinggal pada orang yang bukan milikmu??” aku tak pernah tahu jawabannya hingga aku lakukan itu pada Mo. Apa yang harus aku ucapkan padanya?? Dan aku melangkah melewatinya. Aku berjalan hingga aku berhenti dan menoleh kebelakang. Aku tak berani lakukan itu, bahkan hanya untuk tersenyum. Aku melihat Mo dari tempatku. Hanya itu yang aku lakukan. Aku tak ingin semua ini berakhir begini. Aku tak ingin hanya ini!!
Mo, aku tak sempat ucapkan “selamat tinggal…”. Bukan, bukan tak sempat. Aku memang tak mau lakukan ini. Aku percaya Mo dan aku akan bertemu lagi. Dan aku tak mau malam ini menjadi perpisahan untukku dan dia… .
Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau kapanpun itu. Percayalah, aku akan bertemu dengannya… .
Detikku kali ini untukmu, Mo…

Tuesday, November 13, 2007

bukan surat cinta

Untuk Ben yang pernah mengisi hari-hariku,

Aku menulis surat ini untukmu. Lama sudah kita tak saling bicara, bahkan hanya untuk bertegur sapa...
Di suatu pagi, aku bangun dengan perasaan yang aneh. Aku merasa lemah, tapi aku terus bergerak menjalani hari-hariku...
Tahukah kau, Ben? Aku berusaha melupakanmu, tapi kau selalu ada disini, didalam hatiku...

Aku masih ingat betul pertemuan kita.

Saat itu cahaya matahari sore menembus celah dedaunan yang rindang di taman depan kampus. Udara kota yang menyesakkan sedikit berkurang disana. Aku yang sedang duduk disalah satu bangku taman, mendengarkan candaan teman-temanku. Sebenarnya, ini sudah jam pulang. Tetapi aku dan teman-temanku malah asyik bercanda.
Aku sedikit melamun menghadap meja. Tiba-tiba hembusan nafas diiringi asap rokok dari sebelah kanan membuyarkan lamunanku. Sontak aku menoleh kekanan. Dan kulihat sesosok cowok jangkung duduk menghadap kearahku. Sebatang rokok menghiasi bibirnya yang manis. Rambutnya sedikit acak-acakan dengan poni yang menutupi sebelah matanya. Sorot matanya teduh namun angkuh. Tinggi badannya membuat pandangannya tampak ‘tinggi’ pula. Kaos putihnya terlihat begitu pas dibadannya. Kalung hitam menghiasi lehernya. Jeans belel menambah lengkap gayanya yang ‘asyik’. Kami saling pandang.
“hai...” sapanya setelah menghisap rokok yang sekarang ada di sela jarinya. “kita kan belum kenalan...” lanjutnya. Pandangan matanya terus kemataku. Sesekali dia tengadah dan mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.
Cowok itu mengulurkan tangannya. Aku yang tak mau terlihat begitu memperhatikannya langsung dengan santai menjabat tangannya. Hangat. Itu yang aku rasakan. Kami hanya saling pandang tanpa saling bicara. Tangan kami masih saling menggenggam.
“eh...” kata cowok itu segera tersadar, “nama kamu siapa??”
“Lena...” kataku, “kamu siapa??”
“Ben” jawabnya singkat. Aku merenggangkan jabatan tanganku.

Mungkin seperti itu jika menjadi sebuah cerita. Cerita tentang pertemuan kita.

Ingat saat kita berdua ditangga, Ben?? Itu moment yang memang sulit aku lupakan. Bukan karena tinggi kita sama saat kau berdiri di anak tangga yang dua lebih rendah dari yang aku jajaki. Tapi, disaat itulah aku merasakan satu getaran aneh. Terlebih ketika kita saling pandang, ketika memandang matamu yang hanya ada bayangku disana. Aku mulai menyukaimu, Ben... tepat saat kau memeluk tubuhku disana. oh, Aku harus mengulangi kalimat terakhir tiga kali hingga aku benar-benar percaya telah merasakannya.

Beberapa malam ini aku sulit tidur, Ben. Mataku pun sembab karena terlalu lama menangis. Mungkin kau kurang pandai berbohong padaku. Mungkin jika kau bisa lebih menutupi hubunganmu dengan Anggie, aku tak akan sesakit ini. Kau pernah janji akan menjaga perasaanku. Apa kau ingat, Ben? Seharusnya, jika kau ingin mempermainkan aku, kau harus lebih baik. Kau terlalu bodoh untuk hal seperti ini. Atau aku yang terlalu pandai menebak? Entahlah, yang jelas, saat melihatmu berdua dengan Anggie, hatiku teriris tipis-tipis dan perlahan.

Ben, ada beberapa teman yang bertanya, apakah kau dan Anggie sepasang kekasih. Sebenarnya, aku selalu ingin bertanya, kenapa harus aku? Kenapa mereka tak mencoba bertanya padamu langsung. Bukankah itu lebih baik ketimbang mendapat jawaban dariku yang hanya sebatas senyum. Mana aku tahu? Apakah kau masih ingat, kau pernah bilang, bahwa kau dan Anggie hanya sebatas teman dan kalian bersahabat? Buatku, persahabatan kalian terlalu manis, Ben. Kenapa kau tak juga mengakuinya? Aku hanya ingin kepastian. Bukankah itu yang dibutuhnkan banyak wanita?

Ben, bila aku boleh bebas bicara. Ada yang ingin aku katakan. Sangat ingin aku katakan....

Bukan ini yang aku mau, ben...

Aku ingin kita bisa normal seperti sepasang kekasih yang biasa kita lihat. Bukan yang harus sembunyi-sembunyi didepan banyak orang, terlebih didepan sahabatku maupun sahabatmu. Kau selalu menyuruhku untuk jujur. Tapi kenapa kini kau bohong padaku? Terlalu banyak janji yang kau ungkap, padahal aku hanya ingin satu saja yang ingin kau tepati untukku, bukan untuk Anggie. Please jaga perasaanku. Apa karena Anggie yang begitu baik padamu hingga kau melupakan aku? Apa karena Anggie yang bersedia membelamu hingga kau meninggalkan aku? Apa karena Anggie? Apa memang karena dia?

Sekarang coba pikir, Ben. Setiap kau meminta sesuatu, apa aku pernah menolaknya? Apa saat kau tak dapat membantuku, aku jadi marah padamu? Setiap kau ingin bicara padaku, tengah malam sekalipun, apa aku pernah tak menghiraukanmu? Pernahkah aku hilang saat kau inginkanku? pernahkah aku macam-macam dengan cowok lain? Pernahkah aku meremehkanmu? Pernahkah aku cuek padamu? Pernahkah aku melakukannya?

Sekarang pikirkan satu hal lagi, pernahkah kau melakukan semua yang pernah aku lakukan padamu dengan jujur?

Aku ini apa? Aku memang nggak penting. Aku lihat kamu jalan sama cewek lain, aku bisa apa? Aku mau marah, marah ke siapa? Aku mau jelaous, aku siapamu? Aku Cuma bisa nangis dan marah pada diri sendiri.

Kalau kamu mau tahu, sakit rasanya, Ben...