Pages

Blog Archive

Are you here because google didn't show you the right list from your keyword?

Showing posts with label tears go by. Show all posts
Showing posts with label tears go by. Show all posts

Thursday, June 7, 2012

I Saw Blood on The Floor!

did i tell you that my huru-hara is died? well, those stupid rats (or maybe cats) was sneaking into my house and ate them like a piece of chocolate cookies!! i saw blood on the floor and stair when i back from school. mommy angry because i let them died. i feel really sad. i never wish them died. not even in my mind. :(

Wednesday, February 15, 2012

It Is Tough

hey,
glad to reach my blog again :)

i had a great time with my family and friends. happy to say that i was spending my day with my best friend, Rina. we just sitting in the terrace, eat lots of fried bananas, and talking about anything like our life, gossip, girl things... that was fun, though it wasn't like the time we used to spend together. i have to feel enough with that because life's getting tough with all these money things.

talking about tough life. mine is waaaayyy better that this little girl. i should be grateful with my life. there's lots of people living in the slums area, be friends with poverty. these people, they are living in the riverside, very close to the railroad, amidst landfills, or under the bridges. eat half-cent snacks, no insurance, small house made from cardboard.

i'm talking about a little girl named Jessica. a five years old girl who have a serious health issue, i'm sorry i'm not taken picture of her. i'm not bear to do that, or maybe i was shock. she's so skinny and just smiling all the time. she's living with her mom and it is hard for jessica's mom to do work because jessica still need special treatment. my mom and abang was talking inside the house, just few minutes and i walked out her house, alone. i was speechless. i'm looked around and take some pictures with my phone.

she's living in the riverside, surrounded by garbage. her house is only about 64 square feet! it's smaller than my bedroom. she have no kitchen or electronic goods or even a bed. A BED!!

we used to spend our boring time with surfing on the internet, listen to the music using the newest ipod, playing with xbox. or eating ice cream that we keep in the refrigerator. we should be grateful.

I should be grateful.

-db-

Sunday, January 2, 2011

Letak Hati Manusia

Aku memutar waktu ke sebelas tahun yang lalu. Suatu siang yang terik di gedung tua yang seram. Kala itu, tubuhku hanya terbalut sehelai kain hijau muda-bertali dibagian belakang. Wajahku yang hitam terlihat pucat. Degup jantungku terasa lebih kencang. Aku sedang gugup, atau mungkin juga takut. Kuingat raut wajah mama yang sebal melihat tingkahku. Aku tahu ia sedang lelah, tetapi rasa takutku tak kunjung surut. Belum lagi rasa lapar yang mendera, ususku bagai ular yang mendesis kelaparan.

Seharian puasaku pun dibayar dengan memasuki ruangan aneh yang dipenuhi benda aneh. Disitulah, seorang wanita berpakaian putih berwajah judes itu menyambutku. tak sampai aku puas memandangi ruangan itu, si ibu judes itu menyuruhku untuk menanggalkan pakaianku. Digandengnya tanganku kearah sebuah pintu besi. Kemudian aku disuruh berdiri membelakangi balok besi itu, kemudian mundur, mundur, mundur hingga tubuhku terasa dingin menempel balok besi. Balok besi itu lama-lama miring, dan aku dibuatnya terbaring diatasnya tanpa bantal ataupun alas. Ruangan ini mengerikan!

Seorang dokter masuk dan memeriksaku. Ia menggunakan alat-alat aneh yang menenggelamkan mimpiku sebagai dokter karena pekerjaannya yang tampak horror. Kemudian, dengan ramah, sang dokter bertanya, “pernah tahu dimana letak hatmu?”. Aku pun menjawab dengan isyarat tangan yang menunjuk ke arah dadaku. Dokter itu tersenyum dan mengarahkan alatnya menuju pinggangku. Di layar monitor hitam putih itulah tampak warna putih pekat membentuk gumpalan-gumpalan. “ini yang namanya hati” kata sang dokter. Aku menatap ke monitor dengan perasaan aneh.

Bodohnya si Dida kecil. Ia tertipu oleh metafora Bahasa Indonesia. Perasaannya kecewa karena letak sebuah hati. Hati yang selama ini disebut-sebut sebagai korban ketika kita kecewa. Hati yang selalu kita dekap hangat di dada ketika bahagia menyeruak. Hati yang dimaksudnya hanyalah sebuah kiasan. Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa atas kekecewaannya. Satu hal yang ia tahu adalah ia baru saja tahu bahwa ia hanyalah seorang anak kecil bodoh yang baru belajar sesuatu dari tempat yang paling dibencinya. Ditempat itu pula ia patah hati dalam arti kiasan.

Hati yang dilihatnya dalam monitor adalah gumpalan-gumpalan aneh. Gumpalan penting yang membantu mengurai dan mendaur ulang sel-sel darah merah. Gumpalan yang menyingkirkan benda berbahaya dan tidak penting dalam tubuh.

Dalam hidupnya, Manusia seringkali merasa terjatuh dan disakiti. Namun sebenarnya ia salah jika harus marah pada sekitar atau pada keadaannya. Karena sebetulnya banyak orang yang tidak mengenali dirinya sendiri. Marah karena ketidaktahuannya, just like stupid little girl, Dida, yang tidak benar-benar tahu dimana letak hatinya...

Wednesday, December 29, 2010

Seandainya

kadang, aku butuh untuk memahami.
kadang, aku butuh untuk berbicara.
kadang, aku butuh untuk didengar.
kadang, aku butuh untuk menuliskannya...

setelah sekian kali mencoba meremehkan, akhirnya aku tetap luluh. menyadari hubunganku yang tak lagi terselamatkan.

akhir-akhir ini sering aku menutup diri, mencoba mengalihkan topik ketika ada yang bertanya mengenai kehidupan cintaku. hah, kedengaran aneh ketika aku menyebutnya. sudah sekian lama, mulai aku masih tinggal di Bandung hingga resmi nomaden ini aku menjalin hubungan dengan seseorang.

sebut saja namanya Ded. Ded adalah tipikal laki-laki berpemikiran matang. memiliki pekerjaan tetap. sedikit pendiam. baik hati. lemah lembut. Ded juga terkenal sebagai anak yang patuh terhadap orang tuanya.

berawal dari sebuah persahabatan yang awalnya tidak pernah terpikir untuk menjalin hubungan lebih malah membuat aku kaget menerimanya. ya, dia menyatakan perasaannya padaku. sebuah perjalanan cinta klasik yang bisa terbaca oleh penonton.

banyak perbedaan diantara kami tidak membuat ini berakhir. budaya, agama, dan sifat yang jauh berbeda tidak menyurutkan keinginan kami. jujur, aku bangga bisa bersamanya. ia adalah contoh pria yang mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab pada keluarga kecilnya nanti. kadang aku kagum mendengar celotehannya tentang masa depan, tentang mimpi, dan cita-cita. Ded memang jauh lebih dewasa ketimbang aku.

semua pun berjalan seperti biasanya. hingga suatu hari aku kembali padanya, aku pulang ke Surabaya. bukan hal yang mudah memang membiasakan diri untuk saling berdekatan di satu kota. keadaan aku di Bandung dan dia di Surabaya kadang membuatku merasa LDR kami adalah LDR yang sehat, kami tak pernah sekalipun berantem. kesibukannya akan pekerjaan dan kesibukanku pada skripsi bercampur dengan komunikasi yang seadanya ditambah bumbu saling percaya.

ternyata, semua tidak berjalan semudah yang aku kira. pekerjaanku yang tak mengenal waktu dan kehidupannya yang serba teratur membuat kami jarang sekali bertemu. sifatku yang cuek dan kebiasaannya yang tak bisa sendiri membuatnya mulai membuka hati.
banyak hal yang membuat aku merasa menjadi gadis bodoh, meninggalkan pasangan yang dianggap banyak perempuan lain sebagai laki-laki perfect. ketahuilah aku berusaha. aku mencoba memahaminya. aku ingin bisa mengerti. namun kini semua semakin terbaca.

ia adalah buku dongeng yang disimpan dalam peti kayu bergembok hitam yang tertimbun jauh didalam tanah.

aku bukan gadis kejam yang membiarkan perasaan kekasihku luntang-lantung. kami ini seperti korek api kayu dan kotaknya, kami tak akan bisa menyalakan api jika tidak memaksa diri untuk saling mengenal. sampai kini ia masih Ded yang asing, yang masih membatasi diri. dan aku masih diam, menunggunya menerimaku. ya, aku merasa ia tidak benar-benar ingin menyelami hatiku, namun aku ingin ia melakukannya. kami ini adalah pasangan korek api kayu dan kotak korek api yang terpisah.
aku menunggunya sekian lama. aku tersenyum meski akhirnya lelah. keyakinanku semakin kuat, menggoyahkan kepercayaanku padanya. lalu aku sadar, bukan aku. perempuan itu bukan aku!
suatu pagi aku menyadari, dia sudah pergi tanpa mengucap perpisahan. kami masih membahas tentang masa depan, mimpi, dan cita-cita dengan senyuman. ia Ded. Ded yang masih menebar senyum. Ded yang masih bersemangat menggapai keinginannya. Ded yang seringkali menjadi misterius. Ded yang telah berpaling.

waktu sedihku kusumbangkan kepada jam kerja. kerja yang membuatku belajar melupakannya. kerja yang akan membukakan jalanku yang lebih baik dari ini.

maaf. namun jauh sebelum dia pergi meninggalkan aku. dilubuk hatiku, aku telah merelakannya...

Monday, April 19, 2010

Aku Di Tampar

Selamat malam para pembaca… =)
[ohh… opening kali ini benar-benar terasa keki!]

Okay then. Seminggu ini aku disibukkan dengan sebuah kegiatan rutin : MENGELUH. Ya, terdengar sangat menyebalkan. Aku mengeluhkan kamarku yang terasa panas. Aku mengeluhkan dua ekor nyamuk yang tiba-tiba muncul dan mulai menggigitku. Aku mengeluhkan betapa sulitnya skripsiku. Aku bahkan mengeluhkan les bahasa inggris yang belum aku mulai!

Aku benar-benar mengeluhkan hampir semua kejadian dihidupku. Menggelikan. Aku merasa seperti nenek berusia 60 tahun yang hidup sendirian dan tidak punya pekerjaan selain mengurus seekor kucing bulukan. Nenek tua yang tidak puas dengan hidupnya, mengatai kucingnya ini-itu tapi tetap memandikannya dengan sabun cuci baju hingga bulu si kucing rontok dimana-mana.

Manusia memang diciptakan sebagai manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Aku memang manusia biasa. Skripsi yang satu ini memang telah mengutukku. Aku merasa seperti berdiri ditengah lapangan yang sangat luas, terbakar karena kilatan petir dan bingung harus berbuat apa karena setiap gerakku akan memicu petir-petir berikutnya.

Hal yang bodoh adalah aku menangis saat berdoa pada Allah. Dia tidak akan menyukai melihatku menangis. Hal yang Dia harapkan dari aku adalah perubahan, bukan tangisan. Setelah puas mengeluh selama beberapa hari. Allah mulai menyadarkan aku dengan tamparan-tamparan kecil-Nya.



Dua hari yang lalu, ibu temanku terserang penyakit stroke. Keadaanya pun semakin parah hingga hari ini. Temanku ini hanyalah anak SMA biasa yang berasal dari keluarga biasa. Keadaan ini membuatnya terpukul. Dia sukses membuatku iba.

Tadi sore, Mega datang ke kosan. Dia baru pulang dari Bali. Kami bercarita banyak. Ya, seperti biasa namun dengan gosip yang sangat minim. Hehehe…

Saat Mega pamit pulang, aku mengantarkannya ke depan. Seorang bocah laki-laki melewati kosanku membawa tas kotak berisi box es. Ada sesuatu yang membuat aku tertarik untuk memperhatikannya. Aku tahu dia menatapku tapi aku juga tak kunjung mengalihkan pandangan.

Dia seumuran Niko sepupuku, namun tubuhnya kurus dan tentu saja berkulit hitam. Siapa dia? Kenapa dia lewat sini? Pertanyaan-pertanyaan mendasar dan sedikit nggak penting untuk dipikirkan justru terlintas dikepalaku.

Ya Allah! Aku dibuat terkejut ketika melihatnya mendekati seorang wanita paruh baya, berkerudung putih, dan membawa box es yang sama. Ternyata ibu itu adalah penjual minuman prebiotik keliling. Penjual keliling. Berapa sih untungnya? Dibandingkan dengan lelahnya ia harus berjalan kaki menawarkan dagangan dari rumah ke rumah.

Membantu ibunya berjualan, ha? Betapapun terpaksanya ia melakukan hal itu, itu adalah sebuah bentuk pengabdian pada orang tua yang mengetuk hatiku. Belum tentu semua orang mau disuruh berpanas-panasan menenteng box es dan menawarkannya dari rumah ke rumah.

Dia masih juga menatapku yang memperhatikannya. Hhh… kasihan. Aku dan Mega memang akhirnya membeli dagangan si ibu, hitung-hitung untuk membantunya melariskan dagangan. Tapi siapa yang menyangka kalau anak tadi mengingatkan aku untuk bersyukur.

Aku bersyukur karena tidak harus jualan keliling untuk bisa berkuliah. Aku bersyukur karena orang tuaku masih mampu untuk menuruti semua kemauanku. Aku bersyukur karena aku bisa seperti ini. Aku harus selalu bersyukur bisa hidup dalam keadaan seperti ini.

Sepertinya Allah berusaha menamparku dengan tangan kecil-Nya agar aku sadar. Kejadian beberapa hari terakhir ini terlalu baik untuk aku keluhkan. Namun berapa kali pun aku merasa ditampar dan sadar, dalam kurun waktu tertentu aku akan kembali mengeluhkan hidupku lagi. Ahh… tampaknya aku ini memang manusia biasa.

Tampar aku jika aku lupa bahwa hidupku ini jaauuuuhh lebih baik dari mereka yang berkesusahan.

Have a good night guys…

Saturday, December 5, 2009

Terdiam

selagi kita terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. entah apa yang terjadi disana. aku disini, berpikir...

aku ingat ketika papa mendongengiku kisah-kisah aneh pengantar tidur. aku melihatnya tersenyum sambil menceritakan kisah lucu. entah seberapa berat beban yang ia pikul, ia masih tersenyum untukku. betapa orang yang kita sayang akan mencoba hal terbaik yang ia bisa untuk membuat kita tersenyum. ia akan tersenyum untuk kita meski sebenanya ia tidak mampu. ia akan tersenyum, karena jika kita membalas senyumnya, ia akan mendapat kekuatan. ia akan tersenyum karena ia ingin bahagia bersama kita.

selagi kita terdiam, menyadari betapa rapuh hati mereka. entah apa yang terjadi disana. aku disini, berpikir...

aku ingat ketika keluargaku berlibur. disatu moment, karena keegoisanku, saat terjadi hujan lokal dan longsor, kami harus menyebrangi sungai dan menaiki tangga untuk sampai ke tempat parkir. tempat itu telah kosong. tiba-tiba mama kram perut dan papa harus menjaganya. ia meminta aku, harun, dan abang untuk meninggalkan mereka berdua demi keselamatan kami. tiga anak kecil yang terjebak ketakutan. tertatih-tatih. menatap kedua orangtuanya ditengah sungai. kutelusuri anak tangga yang terkena timbunan longsor yang berbahaya demi sampai diatas. aku menangis dan kedinginan. dalam hati aku percaya, meski tak ada yang berani turun untuk menjemputnya, tapi mereka akan datang padaku. dan, ya, mereka selamat. memelukku. kudengar semua orang bertepuk tangan dan memberi mereka selamat. ketika aku percaya, maka aku akan tetap percaya. meskipun aku menangis dan menatap seolah tak memiliki harapan, tapi aku akan tetap percaya.

selagi kita terdiam, mencoba menenangkan hati meski tak mampu. entah apa yang terjadi disana. aku disini, berpikir...

aku ingat ketika aku telah berganti baju dan memakai penutup kepala. aku ingat ketika mereka memintaku untuk berbaring. aku menangis ketakutan. memohon pada mama dengan sangat agar tak meninggalkanku sendirian. aku menangis dan memohon berulangkali. kupegang tanganya erat-erat sampai kami memasuki ruang operasi. aku masih juga memohon. mama menenangkan aku. aku tahu ia khawatir, namun ia berkata tidak akan terjadi apa-apa. aku tetap ketakutan dan menangis terlebih ketika suster mulai menusukkan jarum suntik untuk membiusku. mama membisikkan aku bahwa tidak akan terjadi apa-apa. ketika aku sadar. aku merasakan sakit yang amat sangat. tapi aku tidak apa-apa. seperti kata mama. kita akan mencoba saling menenangkan, mencoba saling menguatkan, mencoba saling menggenggam hati satu sama lain. memang berat untuk dilakukan, tapi itu akan menjadi alasan kita untuk tetap ada. menjadi alasan untuk tetap bertahan disini.

selagi kita terdiam.
aku masih juga tak dapat mengatakan apa-apa. aku ingin terus tersenyum untuk memberinya kekuatan. aku ingin terus percaya karena aku tahu ia bisa. aku ingin saling menguatkan, karena dia alasanku untuk bisa tetap bertahan disini...

aku masih juga disini, aku akan terus disini, menunggumu mengetuk pintuku.

Wednesday, October 7, 2009

They Don't Really Know Me

kayaknya kesalahan waktu aku nonton film Seven Pound [Will Smith]. film itu ngingetin aku sama temen-temen n keluarga di Surabaya. i do miss my home.
meskipun Nyoti, Desy, and Balola suka ngomong "jancok", tp mereka baik. mereka bahkan gak tega liat pengemis yg minta-minta dideket kita. anak-anak SCOTY yang meskipun doyan berantem tp juga hobby berbagi. meskipun patungan seribu-seribu yang penting kita bisa makan diteras ruko tutup waktu hujan. sama temen-temen dari ABE yang biasa ngobrol sama aku setiap hari. mereka bahkan rela ngasih duitnya ke pengamen jalanan meskipun mereka sendiri uangnya pas-pasan and belom makan. abang, mama, and papa yang terbiasa memberi orang lain bantuan. mereka semua yang juga gak itungan buat bantuin aku, mereka semua membuat hidupku nggak pernah sepi...
aku terbiasa hidup dengan banyak orang yang saling peduli satu sama lain. terbiasa dilingkungan yang semua orang care satu sama lain. TAPI KENAPA DISINI GAK BISA ?!?!?!? kenapa disni rasanya sulit banget untuk berbagi? kenapa semua orang disini cuek? kenapa sihh? aku gak betah hdup dilingkungan baru kayak gini. apa karena aku manja dan terbisa dapetin semua dengan gampang? apa karena aku nggak mandiri dan selalu ada yang menemani?

aku kangen sama orang-orang perhatian disekitarku... gak harus selalu disebelahku untuk jadi orang perhatian... sesekali mau lah duduk disebelahku (atau mungkin kalian malu). nanya kabarku atau basa-basi aja juga udah cukup. aku nggak minta lebih... hal sederhana terkadang menjadi jauh lebih berarti dari lainnya...
kenapa jadi nangis gini sih???????????

Laki-laki Kecil

ketika sebuah kehidupan tidak memiliki harga, apa kita akan tetap menjalaninya? melihat seorang bocah kecil duduk didepan teras circle K, matanya yang jelalatan kesana-kemari melihat lalu lalang orang berjalan cepat menghindari gerimis. aku tahu ia berharap hujan tidak turun malam ini. kaos abu-abu usang yang terlihat besar untuk ukuran tubuhnya itu terlalu tipis untuk melawan dinginnya kota Bandung. sedangkan aku masih menggerutu tentang betapa dinginnya malam ini meskipun jaket telah membungkus badan mungilku.
ia duduk beralaskan potongan kardus air mineral yang pinggirannya telah basah terkena cipratan air hujan. aku melangkah tergesa memasuki circle K. sekilas kutatap wajah kecilnya. tatapannya mengisyaratkan harapan. aku sibuk memilih kue kering untuk mengisi perutku yang sebenarnya kenyang...
akhirnya aku dan beberapa temanku memutuskan untuk duduk diteras circle K untuk menunggu hujan reda. berkali-kali aku menatap sepatu putihku yang kotor terkena cipratan air. lalu pandangan ini terjatuh padanya. pada si laki-laki kecil itu. ia menatapku. aku menatapnya lekat-lekat. menatap rambut hingga kakinya. kecil dan kotor. kutatap kakinya dengan beberapa luka, dengan alas sandal jepit hijau buruk rupa yang tak kalah kotornya dengan aspal jalanan. aku menangkap tatapannya mengisyaratkan sesuatu...
tak berapa lama, seorang anak laki-laki yang 2-3 tahun lebih tua darinya datang dengan membawa sebungkus nasi. anak itu memakannya bersama seorang tukang parkir dan seorang sebayanya. sedangkan seorang anak lagi dengan baju oranye hanya duduk menatap mereka bertiga makan. laki-laki kecil itu dan aku masih bertatapan. tak lama ia kemudian menunduk. aku kembali memasuki circle K, kuambil sebuah kue coklat dan kembali duduk di teras bersama teman-temanku. sekali lagi aku mencuri pandangan pada anak laki-laki itu. entah, aku tak bisa melepaskan pandanganku padanya. dan hati ini menjadi tak tenang ketika melihatnya menoleh, menatap tiga orang disebelahnya sedang berbagi nasi bungkus. ia tidak tahu aku sedang menatapnya. ia memegangi perutnya, lalu dengan tiba-tiba menatapku yang sedang terpaku. anak laki-laki itu menunduk malu. aku tahu ia sedang lapar. aku tahu hujan membuatnya tidak bisa mengamen. aku tahu ia sedang berharap...
kue coklat itu telah ditangannya. aku sangat berharap melihatnya memakan kue coklat itu. kuharap, setidaknya ia tidak kelaparan dalam dingin. lalu aku bertanya padanya, "kok nggak dimakan, dek?" lalu ia menatap kue didalam tas plastik putih itu. ia menepuk bungkus itu pelan, seperti memainkannya. ada cahaya dimatanya. ia tersenyum!
dengan tersipu malu ia menjawab, "nanti aja dirumah..." aku yang kemudian berkata lagi, "nggak apa-apa atuh, dimakan aja..."
kita tidak pernah bisa memilih siapa keluarga kita, dimana kita lahir, dan lingkungan seperti apa yang membesarkan kita... anak laki-laki itu menjawab pertanyaanku sekali lagi, "nanti aja dirumah, mau saya makan bareng mamah aja..." aku menanggapi kata-katanya dengan senyuman. hati ini teriris mendengarnya. anak laki-laki yang kedinginan dan kelaparan itu masih memikirkan mamanya. sedangkan aku yang bahkan hidup dengan serba ada dan berkecukupan, kadang tidak perduli. ketika aku dewasa, mama dan papa selalu bilang, tugas mama dan papa adalah membahagiakan aku dan abang. mengapa kata bahagia menjadi hal tersulit untuk mereka miliki? karena selama 20 tahun aku selalu merasa kekurangan. padahal semua yang aku mau bisa terwujud. semua yang aku mau bisa mereka berikan. semua keinginan tak terucap pun mereka hadirkan dalam hidupku. mengapa aku begitu sulit bersyukur? padahal aku tidak perlu mengamen untuk mendapatkan kue coklat atau bahkan mengemis...
aku harus bersyukur meskipun masalah yang menimpaku berat. aku bahagia punya mama dan papa serta abang yang sayang aku. mereka yang membiarkanku mewarnai hidup ini. mereka adalah rumah bagiku. tempatku berpulang dan menceritakan kisahku. tempatku berbagi. tempatku tertawa dan menangis. tempatku mendapatkan cinta yang sebenarnya. mereka adalah rumah yang tak akan tergantikan oleh siapapun...

pengamen ituh mengajariku sesuatu yg indah dan mahal ..

Monday, October 5, 2009

Kuliah Akan Mulai Lagi

Huaaaaaaaaaa! Malem ini aku gak bisa tidur lagi… aku kepikiran hari sabtu… sabtu nanti aku kan kudu balik ke bandung… aku males banget pulang ke bandung! Bener-bener males!!!!!!
Hidup dikota orang, jauh dari keluarga, teman, dan tempat favorit! >.<”
Tiap ditanya, “kapan balik ke bandung?” pasti bawaannya pengen sedih aja… aku benci harus kangen. Kangen menandakan keinginan yang tidak dapat terwujud saat kita ingin. Kangen menunjukkan keadaan yang tidak berdaya melawan situasi yang terjadi. Kangen membutuhkan perjuangan besar untuk menghilangkannya. Kangen selalu membuat aku tersiksa. (kedengerannya kok lebay banget yah? Padahal memang itu yang aku rasain…)
Kadang kita harus mengalahkan ego, menghilangkan sedih, mengusir kecewa, dan membuang air mata agar kita bisa dapatkan yang kita mau. Ini setimpal, Dida… percayalah ini jalan terbaik menuju suksesmu… [amiiiiiiiin]
Ayo bersemangat! BERSEMANGAAAAAAAATTT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Wednesday, May 6, 2009

Mocca – I Remember

I remember.. The way you glanced at me, yes I remember

I remember.. When we caught a shooting star, yes I remember

I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I..

I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn...



Ndy...

Hampir dua tahun. Tapi aku tetap ingat kamu. Benar-benar mengingat semua yang kamu lakukan, semua kata-katamu. Rasanya susah sekali membuatmu hilang dari ingatanku. Hampir setiap kuliah aku bertemu kamu. Tapi kita masih juga saling diam meskipun bertatapan. Kita tak juga saling menyapa meskipun bersisipan.

Ini salahku. Seharusnya aku menahan diri untuk tidak menyukaimu. Menahan diri untuk tidak mencintaimu. Aku tidak seharusnya menyukai orang yang satu kampus denganku.

Aku, selalu berusaha melupakanmu. Menghadirkan banyak laki-laki lain dalam kisahku. Pacaran dengan orang-orang yang berbeda. Tapi aku kembali mengingatmu dimalam setiap aku berangkat tidur.

Kamu memang menyebalkan. Setiap habis ditolak atau putus dari orang lain, kamu selalu mencariku. Kamu selalu kembali padaku. Kamu selalu memintaku mengulanginya lagi.

Tapi aku tetap nggak bisa marah. Aku tetap menolakmu dengan sangat halus. Menerima makianmu dengan sangat sabar. Aku benar-benar tidak bisa membuat kamu pergi dari hidupku.



Malam ini aku masih terjaga. Aku memikirkanmu lagi.

Tadi kita duduk berjauh-jauhan. Tapi kita berhadap-hadapan. Aku tahu kamu memandangku lagi. Aku tahu orang yang kamu lihat itu adalah aku.

Wednesday, April 15, 2009

have a great interest in something

Aku selalu diajarkan untuk tidak terlalu mencintai sesuatu. Awalnya aku nggak paham maksudnya. Sampai semua itu terjadi.
Yah, aku sayang banget sama kulit badanku. Segala macem perawatan dan perlindungan kulit yang terjamin aman udah aku lakukan. Aku sadar, kulit sawoku ini nggak mungkin jadi kulit lumpia mentah yang putih.tih.tih itu… tapi aku jaga biar nggak kusam. Atau tambah item. Menjaga apa yang udah dikasih Tuhan.
Tapi semua itu rasanya jadi sia-sia disini. Cuaca Kediri lebih mirip oven punya mama. Dinyalain ringan atau berat, panasnya bakal ngefek sama yg dipanggang. Meskipun udah menjaga kulit, gag panas”an, gag lupa luluran, gag lupa bersihin badan, gag lupa pake ini itu, tetep ajah hasilnya tambah item. Huaaaa!!!
Lalu buat apah selama ini buang duit segitu kalo akhirnya bakal tetep TAMBAH item??

Btw, kecelakaan kemaren juga ninggalin bekas luka dilengan kiri ama kaki kiri. Hhmmmphhhh… I hope it’s getting better n didn’t scarred my body …

Sunday, April 5, 2009

merasa terasing

akhirnya akuu menjajakkan di kota asing ini.
KEDIRI.
yang kaloo wkt nonton kambing jantan ada tulisan di baju harianto bertuliskan "i love kediri"
kota yang kayaknya berbeda jauh dengan Surabaya. kota yang akan terasa sangat aneh.
akhirnya, hampir sebulan sudah akuu disini. kota yang manusianya punya jam tidur sekelas niko (adek sepupuku). kota yang kaloo kamu (para cewe) jalan" diatas jam 10 malam tanpa teman cowo yang mendampingi bakal dikira yang macem". kota yang memiliki 20 unit taxi. kota dengan banyak jalur satu arah. kota yang melarang muda-mudi berduaan dibukit bintang sampai jam tertentu. kota yang bikin akuu parno karena disini akuu nggak bawa KTP dan ternyata itu penting.

akuu hanya ingin pulang .
akuu ingin cepat pulang .
tempat ini emank nyenengin . bikin akuu bisaa deket n lebii ngenal temen"ku .
tempat ini yang ngajarin harus beresin kamar tiap bangun tidur. tempat yang ngajarin bahwa orang lain jijik nyuciin underwearmu. kota yang memaksa akuu untuk mencari makan atau mati kelaparan sambil berharap makanan sudah tersedia di meja. kota yang ngajarin nyapu kamar kita adalah penting kaloo nggak mau tidur bareng semut. kota yang membuat akuu merakyat lebii darii merakyat yang akuu lakukan disurabaya. kota yang punya pecel tumpang dengan harga 2000 rupiah (tapi bensin dari PK Bangsa butuh 2 liter).

but i do miss my home n all things around me there ...
:'(
i just wanna go home ...
*home sweet home*


*hik . hik*

Friday, March 27, 2009

Lifehouse - Blind

After all this time

I never thought we'd be here

Never thought we'd be here

When my love for you was blind

But I couldn't make you see it

Couldn't make you see it

That I loved you more than you'll ever know

A part of me died when I let you go


Ndy...

Malam ini badanku memang lelah. Di kasur tua ini, ditempat asing ini, dikamar seram ini, aku masih juga memikirkanmu. Padahal aku berharap dengan ini aku bisa melupakanmu. Pergi ke kota orang beberapa bulan. Tidak sekalipun melihatmu untuk waktu yang lama.

Aku ingin kau pergi dari bayang-bayang dikepalaku. Tapi, tadi aku benar-benar sedih mendengar teman-teman kita menertawakanmu. Menghina kebodohanmu. Kamu laki-laki. Tidak seharusnya kamu melakukan ini. Tidak seharusnya kamu ditertawakan. Tidak seharusnya aku mendengar mereka melakukannya.

Karena itu membuatku ingin menangis.

Menangisi kebodohanmu. Kebodohan kita.

Sebenarnya, mereka menertawakan aku karena aku menyukaimu. Kamu yang terkenal senang memainkan perasaan wanita. Aku hanya tersenyum, ketika mereka menunjukkan SMS-SMSmu yang gila. Yang membuat mereka semakin menertawakanku.



Menyukaimu? Kata mereka, hanya cewek berotak sebesar anggur yang bisa menyukaimu dengan tulus.

Sebegitu menyedihkan itukah aku?

Saturday, February 14, 2009

Travis – Closer

Keep waking up, without you here.

Another day, another year.

I seek the truth, we set apart.

Thinking of a second chance.



Ndy...

Happy Valentine.

Meskipun kamu jauh, atau nggak perduli lebih tepatnya. Aku disini. Selalu disini. Sebaiknya coklat ini aku makan sendiri. Aku nggak pengen kamu bertengkar sama dia karena pemberianku.



Waktu aku lihat coklat ini, aku ingat waktu kita berdua berantem gara-gara permen. Kekanak-kanakan banget deh. Gara-gara satu permen isi coklat aja kita jadi rebutan. Hihihi!

Tapi justru karena itu kita jadi bisa belajar berbagi. Meskipun setelah itu, aku selalu beli permen isi coklat yang bungkus besar biar kita nggak rebutan. Hhmphhh... kenapa aku justru sedih liat coklat segini gede. Apa gara-gara aku nggak bisa ngabisin sendirian tanpa kamu?

Karang

Akhir-akhir ini aku merasakan lelah batin yang sangat amat. Tapi nggak seorang pun yang paham. Nggak seorang pun yang mengerti. Bahkan orang yang setiap hari mendengarkan keluh kesahku. Aku nggak bisa melangkah tanpa bantuan orang-orang terdekatku, aku butuh mereka. Tapi mereka nggak ngerti. Aku bingung.
Setiap duka yang terucap dari mulutku, setiap resah yang tampak diwajahku, dan setiap tetes air mata yang menandakan aku benar-benar kehilangan jalan tidak merubah keadaanku sedikitpun. Aku tidak bisa diam seperti ini. Menanti jawaban tak pasti dari mereka yang telah menipuku.
Ada beban dalam diriku yang ingin segera aku lemparkan jauh-jauh. Aku muak merasakan siang hari di Surabaya. Aku enggan pergi ke kampus yang mereka agung-agungkan itu. Aku lelah berpura-pura tersenyum padahal aku sakit!!!!!!
Aku tetap diam seolah tidak ada sesuatu yang penting telah terjadi. Aku masih berpura-pura tertawa ketika dikelas. Aku masih berpura-pura asyik diajak bicara ketika berkumpul dengan anak-anak kampus. Aku tahu mereka nggak sejalan dengan pemikiranku. Atau, kalaupun ada yang sepemikiran, mereka memutuskan untuk menyerah. Ingin rasanya seperti mereka. Menyerah. Tapi aku tahu aku harus lakukan ini. Aku harus dapatkan yang aku mau selagi aku masih disini, selagi mereka bertanggung jawab atas aku. Aku ini karang. Karang besar dilautan yang nggak bisa hancur karena satu deburan ombak. Aku karang besar dilautan yang menjadi tempat hidup bagi makhluk laut lain. aku karang besar dilautan yang suatu hari nanti menghalangi deburan ombak besar yang ingin merusak daratan.
AKU. TIDAK. BOLEH. HANCUR.
Sejak kejadian dikampus yang kemudian mengganggu setiap malamku itu, aku berubah. Aku tidak merasakan keceriaan yang selalu bertumpah setiap hari padaku. Aku enggan membuka mataku dan menerima kenyataan bahwa aku masih disini setiap pagi. Aku memimpikan mereka di hampir setiap malam di tidurku. Dan yang membuatku benar-benar kecewa pada diriku sendiri, aku membuat mama melihatku menangis! Aku menangis di pagi yang cerah, di ruang makan, aku menangis ketika sarapan! Rasa pedih itu nggak pernah hilang sampai sekarang.
Aku benar-benar lelah. Ingin rasanya aku bangun dari tidurku di tempat yang berbeda. Menatap masa depanku dengan lebih menyenangkan. Melepaskan semua ini. Menghilangkan sesak ini.

Friday, December 26, 2008

Aerosmith – I Don’t Want To Miss a Thing

I could stay awake just to hear you breathing

Watch you smile while you are sleeping

While you're far away dreaming

I could spend my life in this sweet surrender

I could stay lost in this moment forever

Every moment spent with you is a moment I treasure



Ndy...

Seharian kemarin, kamu pasti kumpul sama keluargamu. Makan kue-kue Natal. Seneng-seneng. Main sama keponakan laki-lakimu yang sering ribut kalo kita lagi telpon-telponan...

Malem ini aku susah banget buat tidur. Mungkin sekali-sekali aku kudu coba obat tidur kali yah... hihihi!

Habis ini, masjid dideket rumahku pasti ngebunyiin adzan subuh. Jam-jam ini selalu sepi. Orang-orang sibuk sama mimpinya masing-masing. Mungkin kamu juga lagi tidur nyenyak.

Tapi kadang, aku justru inget kita. Aku nggak yakin apa kamu masih inget kayak yang aku inget.

Kita main PS rame-rame sampai pagi. Kita bikinin anak-anak kopi. Ngeluarin cangkir-cangkir kopi pelan-pelan biar nggak berisik. Sampai kita semua capek. Anak-anak pada tidur diatas karpet. Tinggal kita yang masih sadar. Kita berdua duduk dilantai tanpa alas, kaki diselonjorin kedepan. Kita sama-sama diam. Aku bersandar dipundakmu. Tiba-tiba kamu cium keningku.

Kantung mata kita sama-sama hitam. Sama-sama ngantuk. Tapi kita tetep nggak tidur. Kita tetep duduk sambil cerita-cerita. Inget nggak, kita juga ngetawain muka anak-anak yang lagi tidur.

Sampai kamu minta aku untuk masuk kekamarku dan tidur. Kamu bilang nggak tega liat aku nggak tidur. Aku memang masuk kamar. Aku juga ngunci pintu kamar. Aku coba untuk tidur. Tapi aku inget ada kamu diluar kamarku.

Aku keluar, lihat kamu tidur nyenyak banget. Aku duduk disampingmu. Aku ngelihatin kamu. Aku nggak pengen tidur.

Aku pengen nemenin kamu sampai bangun.

Aku pengen selalu ada disampingmu setiap kamu bangun tidur.

Hmphh... Selamat pagi, Ndy... aku harus tidur. Sepertinya kantung mataku hitam lagi.

Monday, August 4, 2008

Aku kayak anak kecil?

Berapa banyak orang yang pernah bilang.
Berapa sering aku denger kata-kata itu.
Berapa kali kata-kata itu nusuk atiku meski udah sering denger.
Berapa kali coba. Banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!
Tapi mereka tahu nggak sih, aku ini berusaha mati-matian biar nggak dikatain kayak anak kecil lah, anak TK ilang lah, anak SMP nyasar lah. Sumpah! Nggak ada bangga”nya aku dibilang kayak gitu. Yang ada aku malah sedih dikatain gitu.
Mereka tahu nggak sih, aku ngeganti isi lemari bajuku sama baju-baju yang menurut mereka ‘dewasa’. Aku ngeganti gaya jalanku. Aku ngeganti cara ngomongku. Aku ngeganti sikapku didepan mereka. Aku belajar untuk berubah.
Pernah sekali aku dipuji, katanya aku kelihatan dewasa. Senengnya minta ampun. Dirumah, aku berdiri didepan kaca kamarku. Ngeliatin wajah ‘dewasa’ku waktu itu.
Tapi nyatanya, itu Cuma berhasil satu hari ajah! Nggak ngerti kenapa. Besoknya masih ajah ada yang ngatain aku kayak anak kecil lagi.
Dewasa ituh apa dari cara kita berpakaian? Apa dari cara kita jalan? Cara kita ngomong? Bukannya dewasa itu dalam cara berpikir? Bukannya dewasa itu cara kita nanggepin sesuatu?
Aku jadi gak ngerti arti dewasa.
Aku belajar. Aku coba ikhlas berbagi. Aku ikhlas kehilangan waktu mainku untuk berbagi dengan tugas yang nggak pernah abis. Ikhlas atas apa yg dilakuin org ke kita meskipun kita nggak suka. Ikhlas atas semua yang dikasih Tuhan. Aku coba rela kehilangan. Rela kehilangan barang favorit kita. Rela ninggalin sesuatu yg kita suka. Aku coba ngerti. Ngerti kalo nggak semua mau kita bisa diturutin. Ngerti kalo nggak semua orang sependapat dengan kita. Ngerti kalo kita harus hargai orang lain.
Tapi justru diwaktu aku belajar, semua orang ngelakuin hal sebaliknya. Ngeluarin ego masing-masing.
Sebenernya, sedewasa apapun kita, kita pasti punya sisi kekanak-kanakan. Papa yang udah gede ajah masih suka ngelitikin kakinya mama. Mama juga masih suka ngambek. Abang juga masih suka niru” kelakuan anak kecil.
Apa aku salah kayak gini?

Tuesday, November 20, 2007

Who’s playing tricks on me?

Hari ini rasanya campur aduk... udah capek... sedih... marah... tertekan... lonely... sakit hati... bingung... kebelet nangis...
Akuwh ngerasa dimainin sama banyak orang... T.T
Perasaan ini nggak enak banget di ati... dan hebatnya, orang2 yang deket ma akuwh bisa tahu akuwh lagiy ada masalah... kok bisa yakk?? Apa di jidatkuwh ada tulisan “lagi boring, jangan diganggu” gituw yakk?? Ahahah!!
Oia,,, ada satu masalah lama... nyangkut paut ma somebody yang sekarang jadi nyebelin banget didepankuwh... si uka-uka!! it’s so hard for me... yeah, to pass this problem... i just can’t believe it’s so, i hope my burdens will be lighter...
I might have been broken heart before... but i never felt this strong!!
Huhuhu... T.T

Sunday, August 26, 2007

Om Emon and Me

Kenapa om emon begitu istimewa di masa kecil-kuwh (ampe skrg)?? Karena om emon tuh om yang ‘beda’ ama om-om yang laen.
Mama ampe marah 2hari gara-gara tau, waktu kecil, akuwh pernah (bisa dibilang sering) makan makanan ikan sama om emon… (ajakan om emon niyh…)
om emon juga suka maen sulap. Dulu, dia pernah motong jari kelingking tangan kiri-nya ampe akuwh nangis histeris… akuwh liat ndiri tuh jari tinggal gerakan dikit ajah bisa jatoh… tapi waktu silet-na diangkat, tyuz jarinya ditutup tangan satunya, langsung balik lagi!! Buset!! Keren gag tuh om?? Setelah itu, beberapa minggu kemudian, om emon nyamperin mas jovi (mas jovi tuh punya cacat dari lahir… tapi cakep lhow!!), dia nggak tahu kalo waktu itu mas jovi lagi bawa pisau… pas enak-enak ngajak ngobrol mas jovi, enak ajah tuh mas jovi nyabet kepalanya si om… dia mikir dah abis nih cerita… sambil denger mas jovi bilang si om hebat banget… tyuz si om lari deh kekamarnya, waktu ngaca, abis dah tuh rambutnya, untung gag kena otaknya!! Sejak ntu, dia ogah sulap ‘potong jari’ lagi…
eyang pernah marah2 pagi2… sebelom om berangkat kerja, dia mecahin bola lampu, diatas meja makan, and dijadiin sarapannya!! Kayak kuda lumping!! Akuwh gag bisa bayangin gimana mukaku yang pasang tampang takjub…
akuwh, kayaknya emank Cuma akuwh, ponakan yang paling semangat kalo om emon mulai sulap yang asyik, akuwh kasih nama ‘sulap mulut-pantat’, cause, tiap abis om emon makan sesuatu, sesuatu tuh langsung keluar dari pantatnya. Setiap mao maen, si om selalu nyuruh akuw manggil anak-anak tetangga… dan akuwh pasti lari2 kayak anak ilang, sambil bilang ‘ayo kerumahkuwh!! Om-kuwh mao maen sulap!!’ dan begitu kumpul, om pun memulai atraksinya, kadang makan kacang, kadang batang korek api… setelah makan, dibuka tuh pantat, dan jatuhlah apa yang habis dimakannya dengan keadaan utuh!! Plok-plok-plok!!!!
Tapi, beberapa taon kemudian, om bilang kekuatannya hilang gara2 kuku jempolnya, yang dia bilang bawa kekuatan magic (alaah…) tuh baru ajah putus… wakakak!! Si om jadi nggak pernah sulap lagiy deh…
tapi,, masih ada seabrek cerita lucu yang siap om certain…
kayak mantan pacarnya yang abis betulin genteng rumah dipipisin buat ngetes bocor lagi apa gag…
si om yang nggak mau makan pake tangan kanan seminggu gara2 ngegenggem tai manusia waktu wisata dipantai ama temen2na…
dimarahin guru TK-nya gara2 waktu pelajaran gambar bebas si om ngegambar orang pupup di kali…
si om yang saking playboy-na ditolak cewek jelek rambutnya jarang2 girinya jelek mukanya jerawatan jelek and pokoknya gag banget (lagian, si om nganggur amat, nembak cewek setengah alien… katanya buat ngetes)…
si om yang bosen pacaran ama manusia berendem di air terjun semaleman ditengah hutan sendirian buat nungguin jin cantik yang mao dijadiin pacarnya…
dia tuh, om paling gokil seantero jagad raya!! Suer!! I love you, om… (kayak judul film yak??)

Monday, July 9, 2007

Persembahan Untuk Bok-Pijet

Dulu, waktu akuw suka sibuk banget ngerjain tugas ampe tengah malem, hampir seminggu 3x akuw pijet or luluran. Dan akuw punya langganan, seorang wanita tua yang akuw sebut Bok-Pijet. Dia orang Madura yang baik dan lucu, apalagi kalo lagi mijet akuw sambil cerita2... logatnya yang khas nggak bisa ilang.
Suatu hari, akuw n mama pengen pijet, tyuz dateng deh si Bok-Pijet, berhubung yang muda ngalah, jd akuw ngantri dipijet sambil nonton tv disebelahnya mama. Dan si Bok-Pijet pun mulai bercerita...
Bok-Pijet : “iyo dek, iku lho, sing bojone kerjo nang kapor...” (iya dek, itu lho, yang istrinya kerja di kapor)
Mama : “kapor??”
Bok-Pijet : “iyo, kapor. Duh, ayu2 gak ngerti kapor, wong akeh sing ngerti kok dek, luar negri iku lho!!” (iya, kapor, duh, cantik2 nggak ngerti kapor, orang banyak yang tahu kok dek, yg di luar negri itu lho!!)
Mama : “kapor mana seh Bok??”
Bok-Pijet : “eladalah, gak ngerti temenan, wong lek mulih nggowo duik dolar iku lho, sebelahe malaysia....” (eladalah, nggak ngerti beneran, orang kalo pulang bawa duit dolar itu lho, sebelahnya malaysia...)
Mama : “oalah!! Bok-Bok... iku singapore!! Kapor, kapor, kapor apa tak pikir?? Singapore, Bok...”
Gubrakk... jayuzz bgd deh...
Buat Bok-Pijet di alam sana,,, dida mao bilang “makasih” ‘cause udah mao pijetin dida biar ampe tengah malem... peace, love, n gaul!! –emank tv show??-